Lebih Dekat Dengan Adidas Adizero Series

Menyukai the lightest football boots Adidas AdiZero Prime? Anda akan menyukai sejarah produk andalan Adidas ini dari awal kemunculannya sampai versi terbaru berikut teknologi yang tersemat pada AdiZero di tulisan ini. Check it out!

 

sko adidas f50+ fg sort stor.jpg

 

Menjadi nomor dua dan berada dibawah bayang-bayang kesuksesan produk lain bukanlah sesuatu yang menyenangkan, apalagi bagi brand sebesar Adidas. Kesuksesan generasi Mercurial yang bertahan selama lebih dari satu dekade, mulai dari akhir dekade 90-an, membuat Adidas merasa gerah dan ikut membuat Speed Boots lewat generasi F50+, produk sepatu sepakbola global pertama yang dibuat Adidas untuk menemani living legend Adidas Predator. Ciri khas dari F50+ pertama ini, sekaligus yang membedakannya dengan generasi Predator adalah adanya lapisan penutup tali yang membuat F50+ memiliki area kicking surface yang lebih luas dari Predator. Ketika itu tali pada Predator hanya ditutup oleh lace tongue, bukan lace cover. F50+ yang dipopulerkan Alessandro Del Piero, David Trezeguet, Hernan Crespo, ketika itu sebetulnya terhitung cukup sukses. F50+ menjadi penyegar bagi Adidas freaks yang jenuh dengan Predator.

 

F50i, generasi terakhir teknologi TunIT

 

Meskipun terhitung cukup sukses, Adidas rupanya memiliki rencana lain untuk F50+ untuk merombaknya menjadi generasi F50+ TunIT. Adidas menciptakan sistem knock-down pertama untuk sepatu sepakbola yang membuat pemakai F50+ TunIT bisa melepaskan upper, inner sole, dan pul sepatu sesuai dengan kebutuhan. Pemakai F50+ Tunit bisa memilih pul yang sesuai dengan kondisi tanah lapangan, apakah itu lembek, sedang, atau keras. Tercatat David Villa, Emanuel Adebayor, Ashley Young, ikut menggunakan generasi F50+ TunIT.

 

Lionel Messi dengan F30.8

 

Meskipun demikian, tidak semua pemain menyukai teknologi ini. Brand ambassador utama dari F50+ TunIT, Lionel Messi justru lebih menyukai generasi F30+, ‘saudara’ F50+ yang menggunakan model dan upper yang sama persis namun dengan stud model bladed yang permanen, tidak bisa dibongkar pasang seperti rounded stud pada F50+ TunIT. Hal ini disinyalir karena pul dari sistem TunIT tidak sestabil seperti stud permanen pada F30+.

 

F50.9 dengan TunIT system

 

 

Generasi F50+ TunIT dimulai dari F50.6, F50.7, F50.8, F50.9 sampai F50i. Lagi-lagi Adidas merombak konsep TunIT ini. Alasannya apalagi kalau bukan penjualan F50 TunIT yang tidak sanggup menandingi rival head to head-nya, Nike Mercurial series. Akhirnya menjelang Piala Dunia 2010 Adidas melakukan terobosan dengan menghadirkan sepatu sepakbola paling ringan ketika itu: Adidas F50 AdiZero. Dengan berat hanya 165 gram untuk versi sintetik dan 175 gram untuk versi kulit, Adizero jelas jauh lebih ringan ketimbang Superfly II yang memiliki bobot 210 gram. Terlebih lagi Superfly II justru menjadi lebih berat dari Superfly I (185 gram) karena pengaplikasian NikeSense Stud. Dan dengan bentuk upper yang lebih streamline dari generasi F50 sebelumnya, AdiZero menjadi terkesan lebih ‘seksi’, kesan yang sebelumnya hanya didapat pada generasi Mercurial.

Satu lagi kesan yang amat disukai dari AdiZero selain ringan, nyaman. Rasa nyaman ini menjadi nilai jual lebih bagi AdiZero karena generasi Mercurial justru sedikit lebih kaku. Terlebih lagi Adidas juga menyediakan versi Adizero dengan bahan kulit yang tetap ringan (175 gram). Dan lagi-lagi hal ini tidak dimiliki Nike karena tidak tersedianya Mercurial dalam versi kulit yang dijual secara reguler. Last but not least, Adizero jauh lebih murah dari rivalnya ketika itu, Superfly II. Adizero I dijual seharga IDR 1.950 (Rp. 1.950.000,-) sementara Superfly II dijual dengan harga dua kali lipatnya.

AdiZero generasi pertama (image copyright of Pro-Direct)

 

 

Adizero Prime (image copyright of Soccer Bible)

 

Namun, status sebagai sepatu sepakbola paling ringan yang dimiliki AdiZero ketika itu terusik karena Puma meluncurkan versi SL dari Speed Boots-nya V1.10 yang lebih ringan dari AdiZero dengan bobot hanya 150 gram. Kondisi ini tentu tidak ideal bagi promosi AdiZero. Karena itu hanya berselang beberapa bulan dari peluncuran V1.10 SL, Adidas segera memperbaharui AdiZero menjadi AdiZero Prime yang memiliki bobot 145 gram. Segala macam cara dilakukan Adidas untuk mengurangi bobot AdiZero menjadi lebih ringan. Mulai dari pengaplikasian upper yang hanya satu lapis agar lebih ringan, hingga penggantian tali dengan bahan kevlar. Dengan berbagai teknologi yang tersemat didalamnya, jadilah Adidas Adizero Prime sebagai sepatu sepakbola paling ringan.

Adidas Adizero Prime dapat dipesan di bolastore.wordpress.com dengan kode produk AAP3WCP

Category                              : Speed

Specialist                            : Winger, Striker, Fast Player

Material                              : Synthetic Lighweight Microfibre

Outsole                                : Sprint Frame Chasis with Traxion Stud

Weight Scale                    : Super Light (145 gram)

Price                                      : IDR 3.200 (Rp.3.200.000,-)

Available at                      : Bolastore

Product Code                  : AAP3WCP

Advertisements

5 thoughts on “Lebih Dekat Dengan Adidas Adizero Series

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s